oleh

Kain Tenun Khas Buton Terbuat dari Pewarna Alam Dipamerkan dalam HUT Sultra

Reporter : Fatih

Editor : Taya

KENDARI – Pengrajin tenun khas Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) turut andil meramaikan Hari Ulang Tahun (HUT) Sultra yang ke-55. Kain tenun yang dipamerkan ini merupakan kain yang berbahan dasar pewarna alam.

Bahan pewarna yang digunakan cukup beragam mulai dari daun, kayu dan akar pohon.

“Kalau kuning, bahannya dari akar nangka, kuning muda, dari akar mangga, coklat, dari kayu mahoni dan masih banyak lagi,” ujar Maryam salah seorang pengrajin tenun khas Buton, Jumat (26/4/2019).

Proses pewarnaan membutuhkan proses yang panjang, dimulai mencari bahan pewarna di hutan. Kemudian memasak bahan hingga mengeluarkan warna.

Setelah itu, mendinginkan bahan pewarna yang telah dimasak. Selanjutnya, memasukkan benang katun untuk kemudian direndam selama 24 jam dan meniriskan di tempat teduh hingga kering.

Hal ini bisa berlangsung selama satu minggu. Ditambah lagi proses pemintalan benang, dikincir, kemudian mengatur warna benang sesuai dengan kain yang ingin dibuat.

Proses penenunan juga dikerjakan oleh pengrajin selama satu sampai dua minggu tergantung tingkat kesulitan.

Menurut Maryam, tingkat kesulitan yang dialami adalah bahan yang masih sulit ditemukan. Sehingga saat ini, ia mulai menanam bahan pewarna di kebunnya miliknya.

“Kalau orang itu tanam sayur-sayuran di kebunnya, kita ini tanam pohon untuk bahan pewarna,” ucapnya.

Untuk harga kain tenun saat ini dibandrol Rp 1.000.000.

“Untuk mendapat hasil yang bagus, membutuhkan waktu lama prosesnya lumayan rumit. Wajar kalau kainnya mahal,” ucap Suniafa, Koordinator tenun Buton. (A)

Terkini